woman in face mask having video call
Photo by Ivan Samkov on Pexels.com
in ,

Era Digital Bikin Semua Orang Bisa Jadi Influencer

Katalogue.id – Staf Ahli Menteri Komunikasi dan InformatikaHenri Subiaktomenyampaikan penggunaaninfluencer atau opinion leader merupakan hal wajar. Pemanfaatan influencer yang dilakukan oleh pemerintah dinilai merupakan hal wajar dan lumrah di tengah perkembangan dunia digital dan juga pengaruh media sosial yang sangat besar.
 
“Di masyarakat itu ada yang aktif yang pasif, meraka yang status sosial tinggi, biasa punya jaringan hubungan banyak, lebih produktif dan biasanya menjadi rujukan masyarakat yang pasif, makanya muncul opinion leader,” ujar Henri, dalam diskusi Influencer dan Pemerintahan Jokowi, akhir pekan ini.

woman in face mask having video call
Photo by Ivan Samkov on Pexels.com

Menurut Hendri, di era digital, semua orang berkomunikasi dan bisa menjadi penyampai pesan. Apalagi oleh tokoh publik dengan pengikut mencapai jutaan atau puluhan juta. Fakta baru itu, menjadi bukti bahwa ada ‘new media’ dan dapat digunakan untuk menyampaikan berbagai pesan ke publik.

“Mereka yang punya pengikut jutaan itu aset negara, mereka masyarakat juga,” ucap Hendri.
 
Ia mencontohkan Raffi Ahmad yang memiliki 44 juta pengikut di Instagram, sehingga dipastikan memiliki pengaruh signifikan jika dibandingkan dengan misalkan media surat kabar alias koran, serta untuk mendapatkan pelanggan dua juta saja sudah sangat sulit ditemukan. “Ketika ada seorang punya 40 juta pengikut, itu sudah melebihi media,” ucapnya.
 
Menurut dia, influencer sangat berbeda dengan buzzer. Influencer memiliki rekam jejak, pengikut jelas, juga punya tanggung jawab moral. Sementara buzzer, hanya mengikuti arahan pemberi kerja. Karena itu, di era covid-19, justru perlu lebih banyak influencer untuk menyampaikan pesan agar saling menjaga, terlebih ada 175 juta orang Indonesia yang butuh literasi digital.
 
Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo menuturkan penggunaan influncer tidak ada masalah secara hukum, selama ada transparansi, dalam arti jelas dipesan oleh siapa dan kontennya juga sesuai. Kemudian, digunakan untuk isu-isu non kontroversial, lebih edukasi publik, seperti kampanye pencegahan covid-19, dan tidak ada yang dirugikan.
 
“Gunakan influencer silakan saja, bahkan sudah saatnya. Akan lebih baik bermain di isu publik, bukan kontroversi,” ujar dia.
 
Jubir Presiden Joko Widodo, Fadjroel Rachman, menambahkan di tengah era new media, komunikasi pemerintah saat ini lebih horisontal, sharing, dan mengajak semua pihak berpartisipasi. Juga, menggunakan berbagai jaringan yang ada. Baik jaringan di level pemerintah, relawan, stafsus, dan lain-lain, untuk mengomunikasikan kegiatan pemerintah. Jika pun dengan tokoh publik, artis, juga tidak selalu ada relasi transaksional.
 
Misal, mengundang Maia Estianty ke Istana Presiden, dalam rangka sosialisasi agar membantu masyarakat menggunakan masker untuk melindungi diri mencegah covid-19. Sehingga penggunaan influencer, semata karena lanskap komunikasi sudah berubah. Pemerintah menggunakan apa yang menjadi tren dan memanfaatkan sebaik-baiknya. Ia pun menjamin, pemerintah bersikap adil, baik terhadap media baru maupun media konvensional.
 
Menurut dia saat ini waktu yang dihabiskan orang di internet, mencapai tujuh jam 59 menit, bahkan untuk media sosial sekitar tiga jam 26 menit. Sementara untuk televisi hanya tiga jam. “Jadi tidak ada masalah dengan problem influencer ini. Ini adalah fakta baru dan tidak ada yang bisa menahannya, kita manfaatkan sebaik-baiknya,” kata Fadjroel.

Sumber: Era Digital Bikin Semua Orang Bisa Jadi Influencer | Medcom.id

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0