in

Joker: Power-Knowledge (Review Film Joker 2019)

Katalogue.id – Joker, awal pertama perkenalan saya dengannya itu terjadi di pertengahan 2010. Kala itu, saya diprovokasi teman kos, ia dengan sangat antusias menceritakan bagaimana terpesonanya dia akan film Batman The Dark Night. PadahaI ia tahu, saya tak begitu suka dengan film yang berbau superhero. Tapi karena desakannya, pada akhirnya saya memutuskan untuk menontonnya dengan perasaan agak terpaksa.

Saya tak menyangka, bahwa ternyata teman saya serius ketika merekomendasikannnya, terbukti film Batman The Dark Night bukan film superhero biasa, dan saya harus berterima kasih padanya. Karena dialah, saya akhirnya jatuh cinta pada sang sutradara Christopher Nolan  dan Heath Ledger sebagai pemeran Joker.

Joker di film Batman The Dark Night bagi saya adalah sosok yang istimewa, ia seorang villain yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ia tak butuh uang, ia tak butuh kepopuleran, ia evil yang sempurna.

Tanggal 2 Oktober 2019, saya datang ke bioskop, ingin bertemu dengannya lagi, tepat di awal peluncuran film Joker serentak di seluruh Indonesia.

Hampir 2 jam 2 menit saya seolah-olah menahan nafas, menikmati, merasakan dan masuk ke dalam jalan cerita yang dihadirkan. Bagi saya, Todd Philips begitu telaten, rapi, sekaligus ulet sebagai sutradara untuk membedah sisi-sisi Joker sebagai seorang individu yang hidup dalam sistem sosial masyarakat modern.

Film Joker kali ini layaknya sebuah pementasan teater dalam sebuah layar. Totalitas Joaquin Phoenix memerankan Joker, sungguh patut untuk diberikan apresiasi lebih. Ia memang lihai, dalam hal pemeranan watak. Ia mampu keluar dari beban bayang-bayang kesuksesan Ledger dalam tokoh Joker.

Pendalaman sosok masa lalu Joker — sebagai individu yang memiliki kompleksitas problem yang silang sengkarut di tengah hingar bingar masyarakat rasional, individualistis — ia representasikan dengan lugas, natural, dan pas. Saya benar-benar serasa dibawa masuk kedalam kehidupannya. Arthur mengada, bercerita serasa begitu dekat dengan kita.

Musik latar yang mengiringi alur cerita selama film Joker berlangsung juga tak dapat dinomorduakan. Ia mempunyai daya magis tersendiri, powernya begitu besar dalam menyalurkan perasaan yang dialami sang tokoh.

Vibrasinya mampu menghilangkan sekat ruang dan waktu. Kita dibawa masuk kedalam cerita secara perlahan, dibawa ikut merasakan, ikut memahami dan mendalami tentang kondisi beserta situasi kegelapan yang menyelimuti.

Dalam film Joker versi Todd ini, kita akan menemukan plot twist di dalam plot twist. Keseluruhan ceritanya tak membingungkan, karena cara bagaimana Todd menceritakan narasi sangat soft, sabar dan sangat memperhatikan details.

Ia tak tergopoh-gopoh untuk segera masuk ke inti, ia antarkan kita menuju Joker secara perlahan hingga mencapai klimaks. Todd membangun karakternya melalui sisi narasi sekaligus sisi emosi, hingga membuat kami memahami alur yang terbangun dengan sempurna.

Power-Knowledge

Joker adalah anak kandung modernitas, ia dilahirkan sekaligus ditolak kehadirannya. Ia dicemooh sekaligus dipuja. Sistem dalam masyarakat sosial modern lah yang membentuk Arthur Fleck menjadi Joker. Ia dianggap abnormal karena berbeda. Ia tidak dimengerti sebagai individu yang unik, seorang manusia dengan segala kelemahannya. Orang menyebutnya gila.

Karena ia berbeda, ia dianggap abnormal, yang kemudian menjadi pantas dan wajar untuk dicemooh, dilecehkan, dijadikan joke untuk memenuhi hasrat masyarakat. Kita hanya menjustifikasi, mengadili, berkata-kata tanpa mau untuk mendengar mereka-yang berbeda, yang kita anggap menyimpang secara moral dan standar kebenaran.

Sebagai individu ia sama seperti manusia pada umumnya. Memiliki emosi, latar belakang yang mungkin saja traumatik. Ia butuh penerimaan sosial, bukan penghakiman, atau tuntutan untuk menjadi seperti orang sesuai standarisasi zaman.

Arthur menunjukkan bahwa keluar dari depresi itu tidak mudah, butuh bantuan dari individu lain untuk mendengarkan keluhannya, isi hatinya. Memahami latar belakangnya, ia ingin diperlakukan dan dimengerti layaknya orang pada umumnya.

Joker adalah representasi korban dari bagaimana kekuasaan dan pengetahuan bekerja seperti teori Foucault. Dimana komposisi masyarakat diatur oleh elit di suatu masyarakat (pemerintah, ilmuan, dokter, agamawan dll).

Individu-individu distandarisasi untuk mudah diatur, komposisi masyarakat dirancang oleh elit dengan legitimasi pengetahuan. Mereka yang tidak ikut dalam standarisasi normal dianggap menyimpang, dan patut untuk didisiplinkan.

Manusia dalam jaring pengetahuan menjadi subjek sekaligus objek. Manusia dipelajari untuk menemukan sistem disiplin, yang bertujuan untuk dapat mengontrolnya. Sistem disiplin ini kemudian melahirkan hukum-hukum.

Ilmu pengetahuan dan wacana pada akhirnya menjamin reproduksinya. Dalam tahap ini kekuasaan dipandang sebagai sesuatu yang ilmiah. Sistem pengetahuan memproduksi kebenaran, kebenaran membentuk dan mengklasifikasikan individu.

Sampai disini kita temukan bahwa dalam Psikologi, ia seolah-olah mempunyai legitimasi untuk mendefinisakan atau mengklasifikasikan orang gila dan normal. Pengklasifikasian dan pendefinisan mana yang normal dan yang berbeda pada akhirnya tampak ilmiah dan diakui secara umum.

Karena wacana ini terus disebar, dipropagandakan oleh elit, oleh mereka yang ingin mengamankan kekuasan, status quo. Akhirnya masyarakat menerimanya sebagai kebenaran umum. Perlakuan pada kegilaan pun berubah.

Kegilaan yang pada awalnya bukan sesuatu yang dipersoalkan sebelum abad ke 16 berubah ketika memasuki abad 17 dan terus direproduksi. Abad 15 sampai 16, kegilaan dianggap kebebasan imajinasi dan masih menjadi bagian dari masyarakat.

Masuk abad 17 sampai dengan abad 18, kegilaan mulai dipersoalkan, ia dianggap tak berakal (unreason) ia disamakan dengan binatang. Masuk abad 18 akhir, orang gila didefinisikan sebagai orang yang tak patuh terhadap moralitas. Kegilaan dihubungkan dengan baik dan buruk, benar dan salah.

Ia membentuk pola pikir, dan akhirnya mengejawantah terhadap perilaku masyarakat. Orang memandang kegilaan sebagai sesuatu yang menjijikkan, yang pada akhirnya membuat masyarakat merasakan ketidaknyamanan, tidak hanya secara fisik tapi juga pikiran dan omongan dari mereka (yang dianggap gila).

Atas wacana dan pola pikir demikian, institusi seperti rumah sakit memperoleh legitimasi untuk mendisiplinkan dan menghukum mereka. Ia layaknya sebuah pengadilan yang mampu memberi tuduhan dan penghukuman.

Kita mungkin pernah menjadi Arthur, sebagai seorang individu yang mengalami masalah kekecewaan yang dalam akan sebuah realitas, yang mungkin bisa saja mengantarkan kita sampai pada titik depresi.

Di saat kita dalam kondisi demikian, kita butuh seseorang untuk mendengar, memahami kita, membantu kita keluar. Bukan orang yang malah mencemooh dan menjustifikasi, yang pada akhirnya mengasingkan kita. Karena bisa jadi itu menjadi trigger untuk menciptakan sosok Joker-Joker yang lain.

Kembali lagi ke film Joker, overall film ini memang pantas untuk diberi standing ovation. Secara penokohan, alur cerita, scoring, cinematograpy hampir sulit untuk menemukan celah kritik.

Kalau pun ada celah, itu bukan dari filmnya, melainkan dari subtitle film tersebut yang terjemahannya tidak sesuai dengan bahasa Inggrisnya. Salah satunya seperti yang tertulis pada catatan Arthur Fleck (Joker) yang dibaca oleh Debra Kane yang menjadi Social Worker di film Joker,.

Dalam catatan tersebut Joker menuliskan sebuah kalimat yang ditulis tebal bertuliskan “I just hope my death makes more cents than my life.”, secara tidak sengaja, saya melirik subtitle dalam bahasa Indonesia yang diartikan “Saya berharap kematian saya lebih masuk akal daripada kehidupan saya.”.

Sontak saja saya sedikit mengelus dada, kok bisa-bisanya sekelas bioskop ternama menerjemahkan kalimat per kalimatnya tidak begitu teliti, padahal lokasi bioskopnya dekat dengan Kampung Inggris.

Ini pelajaran penting bagi kita penikmat film, paling tidak sedikit banyak mengerti bahasa Inggris. Agar kita benar-benar mampu memahami dialog yang ada, tidak terpaku pada subtitle, yang terkadang jauh dari makna sebenarnya.

Sumber: Joker: Power-Knowledge (Review Film Joker 2019) | officialkampunginggris.com

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0